HUKUM

Wartawan Aceh Timur Di Teror, IWO Minta Polisi Betindak

BANDA ACEH – Profesi wartawan sebagai pembawa kabar untuk masyarakat agar mengetahui kejadian dan peristiwa sehari-hari tak selalu mendapat respon baik dari oknum-oknum tertentu.

Alih-alih mendapat apresiasi, wartawan media online di Aceh Timur ini justru mendapat teror ancaman lantaran memberitakan seorang Siswi SMP yang sakit di sekolahan.

Sebuah organisasi wartawan di Aceh, Ikatan Wartawan Online (IWO) ikut prihatin dengan wartawan yang menjadi korban teror tersebut.

Ketua Pengurus Wilayah IWO Provinsi Aceh, Muhammad Abubakar, sangat mengecam pelaku teror terhadap wartawan media online di Aceh Timur ini. Untuk itu dia meminta pihak Kepolisian Aceh Timur menindak pelaku teror.

Dia menyebutkan bahwa pengancaman terhadap wartawan merupakan bentuk pembungkaman terhadap pers.

Selain itu, pengancaman terhadap wartawan bertentangan dengan pasal 28 F revisi ke IV UUD 1945, Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang pokok pers dan KUHP.

“Kita meminta pelakunya segera diproses hukum, karena perbuatan pelaku sudah mengancam kebebasan pers,” pintanya dengan tegas.

Sebelumnya, wartawan MODUS ACEH.CO, Mahyudin (34) mendapat ancaman dari seseorang lantaran ia menulis berita tentang seorang siswi SMP yang sakit saat di sekolah karena tidak makan yang sempat viral di Media Sosial.

Berita dan video yang viral tersebut akhirnya menarik simpati anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI).

Namun sebaliknya, ada pihak tertentu yang justru gerah dengan video unggahan tersebut hingga melakukan pengancaman pada seorang wartawan.

Masih menurut Abubakar, pelaku teror terhadap wartawan itu juga dapat dijerat dengan Pasal 29 Jo Pasal Pasal 45 Ayat (3) dan Pasal 45B Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016.

“Kita Berharap Mahyudin segera membuat laporan Polisi agar kedepan tidak ada lagi wartawan di Aceh Timur yang mendapat teror dari oknum yang tidak bertanggung jawab,” harapnya.

Sebenarnya, dalam aturan perundang-undangan pers telah di atur bagaimana mekanisme yang daat dilakukan seseorang jika merasa keberatan dengan suatu pemberitaan.

“Kalau ada masalah dengan berita ada aturannya, yaitu hak jawab bukan main teror, “pungkas Abubakar.

Penting diketahui, kasus yang menimpa Mahyudin ini bukan kali pertama teror yang dialami oleh pekerja media. Bahkan kasus-kasus teror hingga penganiayaan yang meyebabkan hilangnya nyawa wartawan masih banyak terjadi.

Bukan hanya mekanisme tentang keberatan atas suatu pemberitaan, namun masyarakat perlu lebih faham tentang profesi wartawan sebagai pembawa kabar.

Sumber: Rilis IWO Aceh/SA

Editor: Abidin

KOMENTAR FACEBOOK
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BATAMSATU.COM merupakan portal berita terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT BATAM SATU MEDIA 2018

To Top