NEWS

Pengamat Industri: Impor kok Sampah!

Albertus Laurensius Setyabudhi, S.T., M.T., Pengamat Industri dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STT Ibnu Sina Batam./Dok.Foto:SA/batamsatu.com.

BATAM – Polemik impor sampah plastik di Kota Batam baru-baru ini ramai diperbincangkan publik. Pasalnya pemerintah menemukan adanya indikasi kandungan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam sampah plastik yang di impor oleh pengusaha pengolah sampah plastik tersebut.

Pengamat lingkungan, Albertus Laurensius Setyabudhi, S.T., M.T., angkat bicara soal impor sampah plastik ini. Ia mengatakan bahwa tren dunia industri saat ini mengarah pada penjagaan dan perawatan lingkungan daripada sekedar mencari keuntungan.

“Memang, sampah plastik memiliki nilai ekonomi, namun dunia industri saat ini harusnya lebih mengedepankan spirit menjaga lingkungan ketimbang keuntungan. Impor kok sampah!,” cetusnya saat di wawancarai batamsatu.com, Senin (8/7/2019).

Pria yang akarab disapa Albert itu mengemukakan bahwa, sebenarnya sampah plastik memiliki resiko cukup besar yang harus dipertimbangkan ulang.

“Yang harus diperhatikan oleh pengusaha dan pemerintah, dalam hal daur ulang sampah plastik menjadi bijih plastik adalah soal kualitas dan pengolahan limbahnya,” ujar pria yang juga menjabat Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian STT Ibnu Sina tersebut.

Kualitas plastik dari olahan sampah plastik itu menurutnya memiliki kualitas elastisitas yang buruk. Kemudian, limbah yang dihasilkan dari daur ulang sampah plastik menghasilkan cairan Chemical yang berbahaya untuk lingkungan.

“Kalau perusahaan pengolah sampah plastik ini tidak punya pengolahan limbah cair dampaknya sangat berbahaya untuk lingkungan. Ini harus diperhatikan oleh Pemerintah Kota,” tegasnya.

Albert juga melihat bahwa Kota Batam tidak memiliki cukup alat untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan dari industri sampah plastik maupun industri lainnya.

“Setahu saya, insenerator (alat pembakar limbah) memang tidak banyak di Batam. Itupun hanya beberapa perusahaan swasta saja yang punya,” terang dia.

Ia memaparkan, merujuk laporan data statistik persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam tahun 2019, produksi sampah di Batam tahun 2018 mencapai sebanyak 272.945,24 ton per tahun.

“Itu artinya Kota Batam memproduksi hampir 1000 ton sampah per harinya,” ujarnya.

Alih-alih impor sampah plastik dari luar negeri, Albert justru menemukan adanya hasil olahan sampah plastik dari pengelola tempat akhir pembuangan sampah (TPA) di Punggur yang dikirim ke Jakarta.

“Dari riset yang saya lakukan, olahan sampah plastik di TPA Punggur justru di kirim ke Jakarta,” sebut dia.

Menurut dia satu sisi ada pengusaha lokal yang memproduksi sampah plastik dan dikirim keluar Batam. Tapi di sisi lain pengusaha Batam justru mendatangkan sampah plastik dari luar negeri.

“Harusnya kan dua perusahaan ini dapat saling kolaborasi,” sebut dia.

Albert menambahkan, jika motivasi Pemerintah Kota Batam adalah menjaga lingkungan, maka harus lebih tegas dalam memberikan syarat pendirian industri-industri pengolah sampah plastik.

“Bagaimana mungkin sebuah industri yang tidak memiliki alat pengolah limbah tapi dapat izin operasi. Namun jika motivasinya hanya sebatas bisnis ya gak bisa ngomong saya,” pungkas dia.

Sebagai catatan, UU Nomor 18 tahun 2008, telah mengatur tentang larangan impor sampah rumah tangga dan/atau sampah sejenis rumah tangga ke dalam wilayah NKRI, beserta ancaman pidana bagi pelanggarnya.

Penulis: SA

Editor: Abidin

KOMENTAR FACEBOOK
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BATAMSATU.COM merupakan portal berita terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT BATAM SATU MEDIA 2018

To Top