BATAM CITY

Begini Klarifikasi Wartawan Soal Penggrebekan Pekerja Ilegal di Nongsa

Suasana rumah kontrakan yang di duga sebagai tempat penampungan pekerja migran indonesia (PMI) ilegal di Nongsa, Batam./Dok.foto: shafix/batamsatu.com

BATAM – Sebanyak enam wartawan berikan klarifikasi terkait pernyataan Kapolsek Nongsa yang menuding mereka gagalkan upaya penggerebekan sebuah rumah yang diduga sebagai penampungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal di Kampung Tengah, Nongsa, Selasa (30/7/2019).

Salah satu wartawan media online di Batam, RN, menjelaskan kronologi awal kedatangan keenam wartawan tersebut ke lokasi yang diduga sebagai penampungan PMI ilegal. “Awalnya kami mendapatkan informasi dari warga setempat yang mencurigai salah satu rumah kontrakan dijadikan sebagai tempat penampungan PMI ilegal,” ujar RN didampingi lima wartawan lainnya di Batam Center, Rabu (1/8/2019) sore.

RN menjelaskan, atas informasi tersebut beberapa wartawan mendatangi lokasi yang diduga sebagai penampungan PMI ilegal tersebut. Setiba di lokasi, keenam wartawan itu bertemu 9 orang yang diduga merupakan PMI ilegal. Mereka lantas mewawancarai beberapa orang yang diduga PMI ilegal tersebut. “Mereka mengaku dimintai biaya senilai 1.700-1.800 Ringgit Malaysia (RM) oleh seseorang untuk meloloskan mereka dari Malaysia untuk pulang ke Batam menggunakan Kapal Pompong. Karena mereka tidak memiliki Paspor,” ujar RN.

Usai wawancara, RN bersama lima wartawan lain menghubungi Kapolsek Nongsa melalui telepon seluler untuk memberikan informasi, namun tidak ada jawaban. Selanjutnya mereka menghubungi Kanit Reskrim Polsek Nongsa. “Lalu kami mencoba menghubungi Kanit Reskrim Polsek Nongsa, Kanit kemudian memerintahkan anggotanya turun ke lokasi untuk mengecek rumah kontrakan tersebut, apakah benar itu adalah tempat penampungan PMI ilegal atau tidak,” jelas RN

Selanjutnya, sambung RN, salah seorang anggota Polsek Nongsa meminta wartawan mengirim lokasi rumah kontrakan tersebut melalui pesan singkat WhatsApp. “Selang beberapa jam, anggota Polsek Nongsa tiba dilokasi. Mereka mengumpulkan KTP dan Handphone milik PMI ilegal tersebut, serta melakukan interogasi,” lanjut RN.

Setelah itu anggota Polisi mengembalikan KTP dan Handphone milik para PMI ilegal itu, dan berjalan keluar dari rumah kontrakan tersebut. “Setelah itu anggota Polisi meminta kita agar keluar dari lokasi dan bertemu dengan Kanit Reskrim di sekitaran Kampung Tengah, Nongsa” ujar RN lagi.

Selain itu, anggota Polisi juga meminta agar mereka (enam wartawan) merahasiakan kedatangan aparat ke lokasi. “Kami dan anggota Polisi tersebut meninggalkan lokasi dan bergerak menuju sebuah rumah makan yang berada di dekat lampu merah Batu Besar,” jelasnya.

Setelah bertemu Kanit Reskrim di rumah makan tersebut, mereka berbincang santai terkait penemuan sebuah rumah yang diduga sebagai tempat penampungan PMI Ilegal. “Lebih kurang satu jam perbincangan tersebut, Kanit Reskrim Polsek bersama anggotanya meninggalkan kami dirumah makan tersebut,” jelas RN.

Kata RN, berselang beberapa menit, mereka kembali ke lokasi rumah kontrakan tersebut dan menemukan isi rumah sudah kosong tidak berpenghuni lagi. “Melihat keadaan tersebut, kami langsung koordinasi kembali dengan Kanit Reskrim melalui telepon seluler dan melaporkan bahwa sembilan PMI ilegal itu sudah tidak ada lagi di lokasi,” ungkap RN.

“Sudah tidak ada lagi ya, coba cek tas mereka apa masih ada, kalau begitu pantau saja lagi di lapangan, nanti info-info aja sama kita,” ujar RN menirukan jawaban Kanit saat mereka hubungi.

RN menyayangkan adanya pernyataan Kapolsek Nongsa seperti diberitakan beberapa media yang menuding mereka menggagalkan penggerebekan PMI ilegal tersebut. “Yang jelas, kami sangat menyangkan pernyataan Kapolsek tersebut. Alangkah baiknya Kapolsek mendengarkan informasi dari kami sebelum memberikan pernyataan di media,” ucapnya.

Hal senada disampaikan EF yang juga wartawan salah satu media online di Batam. “Kalau disebut wartawan melakukan penggagalan penggerebekan, itu tidak benar. Kami hanya memastikan informasi apakah benar ada lokasi penampungan PMI ilegal di rumah kontrakan tersebut. Ketika kami datang, memang benar ada 9 orang PMI ilegal berada disana,” ujarnya.

Ditempat yang sama, BY, mengaku sempat menanayakan kepada beberapa orang yang ia temui di rumah kontrakan tersebut. “Mereka mengaku tidak mempunyai paspor, dan mereka mengaku menggunakan kapal pompong dari Malaysia menuju Batam,” beber wartawan media cetak dan online di Batam ini.

Penulis: Shafix

Editor: Abidin

KOMENTAR FACEBOOK
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BATAMSATU.COM merupakan portal berita terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT BATAM SATU MEDIA 2018

To Top