BATAM

Tiga Faktor Rusaknya Hutan Magrove di Batam

BATAM – Luas Batam secara menyeluruh 41.500 Hektar dan 42 persen merupakan hutan Magrove , namun saat ini hanya tinggal 4,2 persen.

Menyusutnya Hutan Magrove akibat tiga faktor terjadi di Batam sehingga pulau Batam ini, oksigen yang dihirup warga terkena dampak polusi udara.

Faktor pertama, pihak swasta dimana melakukan reklamasi sehingga ratusan ribu pohon bakau rusak , faktor kedua Pemerintah Daerah dan terakhir faktor masyarakat.

Menurut salah seorang aktifis Rumah Bakau Indonesia (RBI) Rizaldi Amanda, ia mengatakan, Ada tiga faktor yang merusak bakau pertama diakibatkan sektor swasta, Pemerintah dan masyarakat

Swasta melakukan reklamasi dan masyarakat pun terbagi tiga kebutuhan membagun rumah dipesisir, kemudian untuk kebutuhan alat tangkap (kelong) , terakhir kebutuhan untuk industri rumah tangga seperti arang bakau

“Alat tangkap tradisional masyarakat membutuhkan 1 juta batang bakau karena kelong perlu 300 kayu setahun, Kalikan saja dibatam 1200 kelong dan data bisa didapat di Natuna Sea,” Kata Rozaldi aktifis di RBI Tanjung Piayu. Minggu(24/07/2016).

Kata Dia, untuk penanaman pohon bakau RBI hanya mampu menanam 50 ribu diikuti perawatannya dan hanya satu ada di Batam.

Tahun 2014 di Batam ditanam 17.500, 2015 bakau ditanam lebih 21 ribu, dan Saat ini RBI tahun 2016 baru melakukan penanaman 41 ribu bakau

“Rencananya sampai akhir tahun akan ditanam 60 ribu pohon bakau,” Jelasnya.

Dan saat ini di Tanjung Piayu, Tambahnya lokasi 250 hektar dibagi 12 zona , dan seluruh bakau sudah dipetakan dan saat ini fokus titik alpa sampai delta.

Sedangkan Pekerja RBI terlatih bisa menanam pohon bakau 500 batang perhari dan itu belum termasuk prepair atau perbaikan.”Pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bapedal Batam Dendi Purnomo beberapa waktu lalu mengatakan, hingga awal tahun 2015 berdasarkan hutan Magrove Batam hanya tinggal 4,2 persen.

Lahan pulau Batam 41.500 hektar dan hingga awal 2015 luasnya tinggal 1.743 hektar , parahnya jumlah tersebut terus menyusut hingga tahun ini.

Saat ini, lanjut Dia, hanya sekitar 800 hektar hutan Magrove yang berfungsi melindungi daratan dari abrasi hilangnya akibat berbagai kegiatan,” Ujarnya.

Ia mengatakan, parahnya 620 hektar hutan Magrove hilang dikawasan Tembesi. Setelah kawasan tersebut beralih fungsi dan dibangun waduk dan sisanya untuk kepentingan wisata, penambahan pasir dan usaha arang.

“Kami hitung pakai satelit sekali tiga tahun pada awal 2015,” Kata Dia.(red/di).

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top