BATAM

Lomba Perkutut di Batam Kembali Ramai

Para juri tengah menilai puluhan burung peserta lomba di GOR Tumenggung Abdul Jamal, Minggu (3/3/2019)./Dok.Foto. batamsatu.com

BATAM – Lomba burung Perkutut di Kota Batam kembali ramai. Hal ini tidak terlepas dari peran Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) pengurus wilayah Kepulauan Riau.

Dalam lomba yang diadakan pada Minggu (3/3/2019) kemarin, sedikitnya 75 burung Perkutut beradu suara di lapangan gantangan khusus burung Perkutut di kompleks gelanggan olahraga (GOR) Tumenggung Abdul Jamal.

Acara lomba Perkutut ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Kepri. Selain dari Kota Batam sendiri, peserta juga berasal dari Tanjungpinang dan Tanjungbalai Karimun.

Karena penilaian lomba bukan hanya dari juri lokal, namun juga juri bersertifikat nasional tentu profesionalitas penilaian lomba tidak diragukan.

Lomba Perkutut ini berbeda aturan dengan lomba burung kicau lainnya. Lomba Perkutut butuh waktu lebih panjang serta berbabak-babak.

Lido Sabda Lesmana, juri lomba Perkutut menyampaikan ada empat babak dalam lomba Perkutut.

“Masing-masing babak berlangsung selama kurang lebih 30 menit,” katanya kepada batamsatu.com.

Setelah babak kedua, lanjut Lido, ada waktu untuk istirahat baru kemudian dilanjutkan dua babak lagi.

Untuk proses penilaian lomba Perkutut, Lido menyampaikan bahwa ada lima kriteria. Diantaranya yaitu irama suara depan, suara tengah, suara ujung, air suara dan latar suara.

“Kelima kriteria itulah yang akan dinilai oleh juri dari setiap babak,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator penjurian P3SI dari Pengurus Wilayah Kepri, Supri Yanto, mengaku bahwa lomba Perkutut kali ini masih belum semarak seperti dulu.

Saat ditanya apakah saat ini pecinta Perkutut sudah jarang? Ia menampik.

Menurut dia masih banyak di Batam dan wilayah Kepri yang lain masyarakat pecinta burung Perkutut. Hanya saja memang belum semua ikut lomba.

“Sebenarnya masih banyak orang yang suka Perkutut. Tapi karena kendala kesibukan dan yang lainnya jadi mereka gak bisa ikut turun meramaikan lomba,” urai pria yang setiap hari merawat ribuan Perkutut di Tiban itu.

Kendati demikian, ia senang karena lomba Perkutut masih eksis di Batam. “Dulu kita di Batam pernah jadi tuan rumah lomba Perkutut Tingkat Asean. Itu dua kali. Kami pun dulu sering ikut lomba ke Malaysia dan Singapura. Bahkan juga Thailand,” ingatnya.

“Hanya saja sejak ada wabah flu burung banyak negara memberikan larangan keluar masuk unggas termasuk burung. Jadi sekarang ya sulit buat lomba tingkat internasional. Kecuali larangan itu di cabut,” tutupnya sambil berharap.

Penulis: SA
Editor: Abidin

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − three =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top