BATAM

Kasatpol Masa Bodoh Atas Laporan Anak Buahnya ke Polresta Barelang

BATAM – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja kota Batam Hendri tidak ambil pusing atas adanya laporan anak buahnya terhadap Polresta Barelang dugaan pungli penerimaan PTT satpol PP.

“Saya tidak ambil pusing lebih baik anjoy ‎ dan banyak yang lain perlu dipikirkan,” Kata Hendri usai upacara 17 agustus di Dataran Engku Putri, Batam Centre. Rabu(17/08/2016).

Kata Dia, biarlah proses hukum berjalan dan kalau memang ada alat bukti adanya punggutan terhadap mereka‎ dan itu syah saja dilaporkan.

“Saya sudah tau adanya laporan tetapi masih banyak pekerjaan lain, ” Ujarnya sambil tertawa sumbringah terpingkal-pingkal.

Sementara itu, Walikota Batam Rudi usai memimpin upacara hari kemerdekaan RI ke 71 mengatakan, ‎ sampai saat ini belum mengetahui adanya ratusan satpol PP dipungut biaya serta belum dibayar gajinya.

Termasuk adanya laporan beberapa orang satpol PP melaporkan terhadap kepolisian Polresta Barelang dan saat ini masih menunggu hasil penyidikan polisi.

“Belum ada diterima dan justru menunggu hasilnya apa dan siapa yang terlibat dalam dugaan penipuan ini,” Ujarnya.

Ia menambahkan, kalau melapor‎ Pemko tentu akan kita proses cepat dan akan menindak oknum pelaku tersebut,” tandasnya.

Seperti diketahui, ‎lima anggota Satpol PP Batam membuat laporan ke SPK Polresta Barelang bahwa tidak dibayarnya gaji serta adanya dugaan Pungli saat measuk menjadi PTT Satpol PP Pemko Batam.

Menurut salah seorang anggota Satpol PP berinisial‎ BA menceritakan, dimana saat awal akan masuk harus merogoh kocek sejumlah Rp62 juta berdua bersama saudaranya.

“Waktu itu saya bayar Rp 62 juta karena berdua dengan adik saya,” ujar BA, saat membuat laporan di Polresta Barelang, Selasa (16/8/2016).

“Rombongan ke-3 ada sekitar 800 orang lebih, termasuk saya dan adik saya. Tidak digaji,” kata wanita berjilbab itu.

Ia mengatakan, hanya sekali mendapatkan insentif sebesar Rp 500 ribu. Setelah itu tidak pernah lagi.

Kemudian, penerimaan dan penyetoran uang penerimaan itu tidak kepada satu orang saja, ada beberapa pihak yang terlibat. Bahkan seorang korban mengatakan juga ada keterlibatan satu LSM.

“Saya masuk dari LSM, bayar Rp 18 juta. Tapi saat didatangi kembali orang itu sudah tidak ada lagi,” kata korban.(red/di).

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top