NASIONAL

Jokowi: Indonesia Tidak Akan Diamkan Illegal Fishing

AMOKNEWS – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia mengalami kerugian ekonomi sebesar US$ 20 miliar per tahun akibat kejahatan pencurian ikan atau Illegal, Unregulated, and Unreported Fishing (IIU Fishing).

IUU Fishing yang kini berkembang menjadi kejahatan transnasional terorganisasi selain berdampak negatif bagi perekonomian nasional, juga menjadi ancaman serius bagi kehidupan 65% populasi terumbu karang di perairan negeri ini.

“Indonesia tidak bisa mendiamkan persoalan IUU Fishing,” kata Presiden Jokowi saat berpidato pada pembukaan Simposium Kejahatan Perikanan Internasional II di Gedung Agung, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Senin (10/10).

Simposium yang digelar selama dua hari, membahas berbagai persoalan menyangkut pencurian ikan, perdagangan manusia, dan kejahatan narkoba. Para peserta berasal dari 46 negara, di antaranya Australia, Austria, Tiongkok, India, Ghana, Nigeria, Afrika Selatan, dan Vietnam.

Presiden mengatakan, pemberantasan IUU Fishing yang dilakukan Indonesia sejak dua tahun terakhir, berhasil menangkap dan menenggelamkan 236 kapal pencuri ikan.

Usaha nyata Pemerintah Indonesia selain dapat menurunkan tingkat eksploitasi dan pencurian ikan di perairan Indonesia hingga 35%. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mulai menata industri perikanan nasional.

“Ini memungkinkan Indonesia meningkatkan stok ikan nasional dari 7,3 ton pada tahun 2013, menjadi 9,9 juta ton pada tahun 2015,” katanya.

Bahkan, katanya, selama periode Januari hingga Juni 2016, terjadi peningkatan ekspor sebesar 7,34% produk perikanan Indonesia dibandingkan pada periode yang sama tahun 2015.

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), pada tahun 2014 Indonesia menempati peringkat kedua sebagai produsen ikan laut terbesar di dunia dengan jumlah tangkapan 6 juta ton atau setara dengan 6,8 % total produksi dunia untuk ikan laut.

Namun, Presiden Jokowi meyakini bahwa data tersebut masih jauh di bawah potensi maksimal yang dimiliki Indonesia. Sebab, aksi pencurian ikan di perairan Indonesia menjadi faktor utama penghambat peningkatan potensi peningkatan produksi.

“Indonesia ingin terus belajar dari negara-negara lain untuk melawan IUU Fishing, sekaligus kita akan dengan senang hati berbagi pengalaman kepada negara-negara sahabat,” kata Presiden Jokowi.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi secara khusus menyampaikan apresiasi atas upaya negara-negara sahabat dan institusi internasional yang memahami bahwa pencurian ikan merupakan kejahatan transnasional yang dampaknya luar biasa bagi ekosistem laut, industri perikanan, dan kelestarian lingkungan.

“Praktik illegal fishing telah mengurangi stok ikan dunia sekitar 90,1%. Illegal fishing juga terkait kejahatan lain, seperti penyelundupan barang dan penyelundupan narkoba dan pelanggaran terhadap peraturan perlindungan alam dan kebersihan,” kata Presiden.

Dia mengatakan, apabila IUU Fishing dibiarkan merajalela, maka bumi yang menjadi tempat tinggal dan rumah umat manusia akan terancam keberlanjutannya.

“Sangatlah penting untuk memerangi kejahatan transnasional yang terorganisasi tersebut dengan kolaborasi global,” katanya.

Mendampingi Presiden Jokowi pada acara itu antara lain, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwong X, Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

BERITA SATU

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − fourteen =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top