EDITORIAL

Geliat Pasar Buku Haluan Kiri

Para pecinta buku patut bersukur di era teknologi informasi saat ini. Akses untuk mendapatkan buku begitu mudah melalui pasar online juga lapak-lapak pribadi di sosial media. Para penjual buku secara online biasa menampilkan berbagai koleksi produk buku yang dipasarkan beserta daftar isinya. Bahkan tak jarang mereka menampilkan sebagian isi buku untuk menarik pecandu baca buku untuk memilikinya. Bau kertas memang selalu merangsang daya baca bagi banyak orang ketimbang harus membaca melalui monitor atau layar LCD gadget.

Berbicara soal buku, tak kalah menarik adalah mengamati perkembangan tema-tema buku yang sedang tren diproduksi oleh industri percetakan. Segala macam tema buku mulai dari kebutuhan anak-anak hingga orang dewasa, kajian dapur hingga kajian luar angkasa, tema tradisional sampai moderen, serta ilmu sosial paling kiri hingga paling kanan dan buku-buku tuntunan keagamaan yang begitu banyak diproduksi.

Pembahasan soal buku ini bagian paling menarik untuk dicermati adalah soal peredaran dan tema serta kajian keilmuannya. Kita tentu ingat peristiwa-peristiwa saat negara dan pemerintah membatasi bahkan sampai ada larangan bagi buku-buku dengan kajian tertentu beredar bebas di pasaran. Kebanyakan, buku-buku yang dilarang peredarannya adalah buku berhaluan sosial kritis atau juga di istilahkan berideologi kiri.

Buku yang banyak menuangkan kajian pemikiran aliran Marxisme dan totoh-tokoh kiri lainnya baik internasional maupun nasional mendapat larangan beredar akibat dianggap memiliki pengaruh berbahaya bagi masyarakat oleh pemerintah pada saat itu. Utamanya pasca peristiwa gerakan 30 September 1965.

Kondisi pelarangan tersebut bertahan cukup lama seusia rezim orde baru yang tumbang pada tahun 1998. Peristiwa yang sering dianggap tonggak sejarah reformasi bangsa Indonesia ini membawa angin segar bagi pembatasan-pembatasan ekspresi demokrasi. Tak terkecuali peredaran buku-buku berhaluan sosial kiri Marxisme.

Ketatnya pengawasan terhadap ideologi yang di doktrinkan kepada masyarakat masa orde baru luntur seiring tumbangnya penguasa. Buku-buku yang memuat kajian sosial kritis ini kembali bebas dan mudah untuk di dapatkan. Pemasarannya pun tak lagi sembunyi-sembunyi seperti masa orba. Tak hanya pemasaran offline. Namun juga memanfatkan infrastruktur jaringan pemasaran secara online.

Hampir di setiap pusat-pusat toko buku, mereka secara terbuka menjual buku-buku dengan kajian yang sempat di cap terlarang tersebut. Begitu juga di lapak-lapak jual buku online. Bahkan tak sedikit toko buku online yang secara khusus menjul buku-buku berhaluan ideologi kiri ini.

Buku hasil re-produksi cetakan lama yang kemudian diperbarui banyak mewarnai cover-cover buku kajian sosial kiri ini di samping buku-buku baru yang ditulis oleh tokoh baru. Bahkan dapat di bilang karya pemikiran tokoh-tokoh kiri lama masih mendominasi cetakan-cetakan buku kiri.

Praktik semacam ini tentunya memiliki nilai dan azas kebermanfaatan yang baik bagi perkembangan suatu bangsa untuk terus melangkah maju. Literasi-literasi karya para ilmuan tidak lagi disembunyikan dari masyarakat. Juga tidak lagi bersembunyi untuk sekedar dipelajari.

Itulah mungkin demokrasi yang seharusnya. Batasan keerdekaan tidak diberlakukan pada kehendk dan kebebasan berfikir seseorang seara individual. Melainkan batasan itu diberlakukan dalam implementasi perilaku perbuatan. Demokrasi yang memberi garansi kemerdekaan bagi masing-masing individu untuk mempelajari berbagai ilmu dengan batasan yang tidak melanggar privasi individu tersebut.

 

Penulis : Abidin

Editor : Abidin

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − thirteen =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top