Hukum

Empat Warga Taiwan Di Tuntut Hukuman Mati Di PN Batam

BATAM Empat orang warga negara Taiwan, Chen Chung Nan, Chen Chin Tun, Huang Ching An dan Hsieh Lai FU, dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Batam. Para terdakwa penyelundupan sabu seberat 1,037 ton tersebut kembali menjalani persidangan pada Selasa (30/10/2018).

JPU Filpan dalam tuntutannya, meminta hukuman maksimal kepada keempat terdakwa yaitu hukuman mati. Pasalnya , mereka telah terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Berdasarkan seluruh keterangan saksi yang dihadirkan, berikut keterangan saksi ahli, semua menyatakan perbuatan terdakwa terbukti bersalah. Dalam persidangan terungkap adanya alasan pemaaf atau pembenar. Begitu juga dengan analisa fakta persidangan, serta dukungan barang bukti dan saksi serta saksi ahli, ujar JPU.

Perbuatan keempat terdakwa ini, menurut JPU mengakibatkan nama negara Indonesia menjadi buruk citranya di dunia internasional. Seolah-olah Indonesia jadi lahan empuk peredaran narkotika.

Selain itu selama masa persidangan, keempat terdakwa tidak mengakui perbuatan penyelundupan atau membawa 1 ton lebih sabu-sabu masuk ke Indonesia.

Untuk hal yang meringankan terdakwa, tidak ada. Terdakwa sendiri terbukti membawa atau menyelundupkan masuk narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 1 ton 37 gram ke wilayah Indonesia dengan melawan hukum, yakni membawa narkotika melebihi 5 gram, jelas JPU.

Setelah mendengarkan tuntutan JPU, Ketua Majelis Hakim, M Chandra di dampingi Hakim Anggota Yona Lamerossa Ketaren dan Redite Ika Septina menunda persidangan hingga seminggu kedepan untuk mendengarkan pledoi atau nota pembelaan dari penasehat hukum.

Sementara itu, usai persidangan, Penasehat Hukum keempat terdakwa, Herdian Saksono mengatakan bahwa, dalam kasus ini JPU terlalu optimis dalam menuntut hukuman di luar pasalnya itu sendiri yakni di pasal 112 dan 114.

Dari logika hukum dan fakta persidangan, jelas klien saya itu ditangkap tidak berada di wilayah Indonesia. Kapalnya tidak mengarah ke Indonesia. Harusnya hukum territorial Indonesia tidak bisa diterapkan di persidangan ini, ujar Herdian.

Mersa janggal, Herdian justru beranggapan bahwa, kasus yang menjerat kliennya penuh rekayasa. Pasalnya, barang bukti sabu seberat satu ton lebih itu baru ditemukan dua hari selang penangkapan Sunrise Glory di perairan Selat Philips.

Kami mempertanyakan pada awal penangkapan tanggal 7 Februari lalu ditegaskan tidak ada barang apapun narkoba di dalam kapal. Tapi selang dua hari kemudian mendadak ditemukan satu ton lebih sabu-sabu. Apalagi berita penyitaannya tanggal 12 Februari. Itu menurut saya ada kejanggalan. Ini sangat di luar kewajaran, ujar Herdian.

Herdian mengatakan keberatan tersebut akan dituangkan saat menyampaikan pledoi atau nota pembelaan pada persidangan selanjutnya.

Sebagaimana diketahui, keempat terdakwa di amankan pada 7 Februari 2018 yang lalu. KM Sunrise Glory berbendera Singapura yang mereka gunakan untuk mengangkut 1 ton lebih sabu itu di tangkap oleh Kapal Patroli KRI Sigurot-864 Lanal Batam di perairan Selat Philips Kepulauan Riau.

 

 

Editor: Abidin

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 6 =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top