DAERAH

Balita Cantik asal Wonosobo ini Memiliki Tiga Kelainan

AMOKNEWS – Hariyadi (41) masih berpeluh usai menjajakan kue pukis keliling di Wonosobo, Jawa Tengah.

Namun ia masih terlihat sabar menemui tamu yang datang ke rumahnya untuk menjenguk putri bungsunya.

Pria itu pun dengan penuh kasih sayang memangku putrinya yang bernama Azizah sembari berbincang dengan tamu.

Azizah, balita cantik itu, belakangan menjadi perhatian warga sekitar rumah Hariyadi di Kampung Prajuritan Bawah, RT 02 RW 10, Kelurahan Wonosobo Timur, Kabupaten Wonosobo.

Sebab, selain menderita bibir sumbing, balita itu juga mengalami keterbelakangan mental (down syndrome).

Tidak hanya itu, jantung Azizah mengalami kelainan yang mengakibatkan kondisi tubuhnya melemah.

Hariyadi menceritakan, tidak ada tanda-tanda kelainan yang terlihat saat putrinya itu masih dalam kandungan istrinya, Sri Saptarina Yulianti (41). Kelainan diketahui saat Azizah lahir karena mengalami bibir sumbing.

“Usia tiga bulan, Azizah sudah didagnosa mengalami kebocoran jantung sekaligus down syndrome,” ujar Hariyadi, Minggu (23/10/2016).

Ia dan keluarga mengaku terpukul atas kondisi Azizah. Namun tak lantas membuat ia berpangku tangan.

Ia bekerja keras dengan berjualan kue pukis keliling dan menjadi penjaga malam di sebuah kantor pemerintahan Kabupaten Wonosobo.

Menurut dokter yang memeriksa Azizah, ujar Hariyadi, kelainan yang diderita Azizah diduga akibat bakteri dari kotoran kucing menyerang janin Azizah saat masih dalam kandungan.

Ia mengakui saat hamil, sang istri memang tidak rutin memeriksakan diri lantaran kendala finansial. Terlebih dua kakak Azizah, Abdurrahman Zufar dan Abdillah Fauzan, sedang membutuhkan biaya untuk sekolah.

Belum lama ini, Azizah dirujuk ke rumas sakit di Yogyakarta dan disarankan untuk operasi. Namun karena usia Azizah yang terlalu kecil, maka dokter menyarankan operasi dilakukan pada 2017 mendatang.

“Dokter bilang kalau anak saya juga mengalami gangguan pencernaan. Sehingga disarankan untuk rutin diperiksa. Tapi kami tidak mampu, karena meskipun ada KIS (Kartu Indonesia Sehat) kami juga butuh biaya untuk bolak-balik Wonosobo-Yogyakarta,” ungkap Hariyadi.

Layak dibantu

Tri Purwanto, koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kementerian Sosial mengatakan sudah mengunjungi keluarga balita Azizah.

Menurutnya, keluarga Hariayadi layak menerima dukungan, terlebih mereka juga belum menerima dana asistensi sosial dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

“Dana itu kemungkinan baru bisa dimasukkan pada anggaran tahun 2017,” ujarnya.

Pihak TKSK sendiri telah berusaha untuk membantu meringankan beban Hariyadi dengan menyediakan sarana transportasi apabila kelak Azizah hendak menjalani operasi ke Yogyakarta.

“Kami mengajak komunitas peduli sosial Sedekah Rombongan (SR) Wonosobo untuk menyediakan ambulans gratis bagi pak Hariyadi,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Sub Bagian Rehabsos Kepala Bagian Sosial dan Kesra Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, Heri Siswanto, mengaku anggaran untuk dana asistensi sosial Pemkab Wonosobo memang sangat terbatas.

“Anggaran yang dialokasikan untuk asistensi sosial sebesar Rp 300 juta dan baru dapat diterimakan pada 226 penderita cacat berat, ditambah 25 penderita lagi yang di-support oleh anggaran dari Kemensos RI,” jelas Heri.

Tahun 2017 mendatang, pihaknya telah mengusulkan asistensi sosial bisa dialokasikan anggaran setidaknya Rp 350 juta – 400 juta, sehingga para penyandang cacat berat seperti balita Azizah bisa dimasukkan sebagai penerima manfaatnya.

KOMPAS

KOMENTAR
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 5 =

BATAMSATU.COM merupakan Portal Berita Terpercaya di Batam

Hubungi Kami

PT. BATAM SATU MEDIA2018

To Top